Wednesday, June 10, 2009 2:43 PM

Honda Permata Hijau : Kepuasan Pelanggan Optimal












Honda Permata Hijau- Dalam menjalankan usaha, sudah selayaknya pengelola usaha mementingkan kepuasan dan kenyamanan konsumen. Itu lah yang saya rasakan di Honda Permata Hijau. Honda Permata Hijau telah melakukan, menurut saya, hal yang sangat maksimal terhadap kepuasan dan kenyamanan pelanggan. Karena saya yakin, bahkan tidak semua bengkel Honda di Jakarta, menyediakan kenyamanan seperti itu.

Mobil Honda Jazz saya kebetulan sudah memasuki kilometer ke 40.000, dan sudah saat nya untuk masuk bengkel untuk servis berkala. Biasanya, saya selalu mengunjungi Honda Kebon Jeruk, namun sudah dua kali ini ( 30.000 dan 40.000 ) saya ganti lokasi, ke Honda Permata Hijau, karena memang letaknya lebih dekat dengan rumah saya. Pas servis 30.000 km, saya tidak sempat menunggu di ruang tunggu yang disediakannya, sehingga saya belum tau tentang keindahan Honda Permata Hijau.

Saya lalu berbicara dengan CS untuk masalah servis mobil ini. Saya diberikan sebuah kertas untuk pembayaran dan pengambilan mobil, serta sebuah kupon yang dapat ditukarkan dengan sebuah minuman dan sebuah snack di ruang tunggu. " Silahkan ke atas mas, di ruang tunggu", ucap si CS mempersilahkan saya untuk menunggu mobil saya selesai dikerjakan yang, katanya, sekitar 3-4 jam baru selesai. Sebenernya, di tempat manapun, menunggu di ruang tunggu adalah sebuah pilihan yang paling tidak saya sukai. Entah karena apa, mungkin saya berpikir, ga bisa ngerokok lah, ngebosenin lah, dan lain sebagainya. Tapi hal ini menjadi lain , ketika saya memaksakan diri untuk bergerak naik tangga menuju ruang tunggu.

Indah........Nyaman....dan menakjubkan. Itulah gambaran pertama ketika saya melihat keadaan di ruang tunggu Honda Permata Hijau. Selepas menaiki tangga, di depan saya terhampar luas jajaran sofa empuk untuk 2 orang, menghadap ke tembok utara. Di depan sofa-sofa itu terdapat meja yang ukurannya pas untuk meletakan makanan ataupun majalah. Di tembok utara tersebut terdapat 3 buah tv flat. Tv 1(tengah) menayangkan siaran televisi normal ( saat itu sedang acara gosip ), TV 2 (kanan) menayangkan daftar mobil-mobil yang sedang dikerjakan, jam datangnya, estimasi selesai dikerjakan, serta statusnya ( TUNGGU/TINGGAL ). Bersebrangan dengan 3 TV itu terdapat sebuah meja pangjang untuk 2 kursi, dengan satu buah komputer. O iya, seluruh area disini diberikan fasilitas wi-fi.

Saya pun menukarkan kupon itu dengan secangkir kopi, dan sebuah kue pastel. Lalu saya menuju ke smooking room yang letaknya di suduk kiri belakang dari ruang tunggu itu. Menakjubkan...smooking room itu tetap dingin, full AC, dan juga ada hexos penyedot asap rokok. Satu hal yang sering saya perhatikan dari sekian banyak tempat usaha, dari hotel, mall, dan lainnya, adalah smooking room tidak dibuat nyaman. Hanya diberikan kipas, tidak sejuk, dan bikin sumpek. Entah mungkin bermaksud agar tidak betah merokok, namun mereka nampaknya melupakan, kalau perokok dan non perokok sama-sama punya hak untuk dilayani.

Didalam smooking room terdapat sebuah kursi untuk relaksasi, dan juga di luar smooking room. GRATIS!!!!!!!!!!!!... Tinggal hubungi operatornya dan semua konsumen bisa menggunakan. Di meja yang tadi saya ceritakan, terdapat sebuah komputer yang tersambung dengan internet yang bebas digunakan sama siapa saja. Benar-Benar menakjubkan.

Lalu, ketika masuk waktu dzuhur, saya pun bergegas ke kamar mandi. Di dalam lorong yang terletak disamping tangga itu, terdapat sebuah musholla, wc pria, dan wc wanita...Dan tidak ada sama sekali aroma pengap dan lainnya, seperti ketika masuk ke area toilet di lokasi lain. Di depan musholla tersebut di letakan sebuah sandal jepit warna hijau, yang ternyata, tidak ada yang punya dan memang diperuntukan untuk orang yang ingin mengambil wudhu. Nah, ini dia satu hal yang sering luput oleh pengelola bisnis lainnya. Kebanyakan dari tempat usaha, memang menyediakan musholla, namun mereka tidak menyediakan kran air untuk berwudhu. Kebanyakan kita harus masuk ke bilik kamar mandi, lalu membuka kran untuk mengisi ember..bahkan, kita harus menyemprot-nyemprot muka kita pakai semprotan wc. Tapi tidak disini. Honda Permata Hijau menyediakan keran air beserta injekan kakinya untuk berwudhu, yang letaknya di sebelah kiri washtafle. Benar-benar komposisi yang indah.

Memang, sebaiknya setiap pengelola usaha harus memperhatikan kepuasan dan kenyamanan pelanggan. Apalagi bagi tempat usaha yang memang menjual jasa. Kepuasan pelanggan menjadi mutlak. Mungkin contoh seperti kelakuan pelayan loca, dan hebatnya manajer in charge dari J-co dapat menjadi contoh tentang bagaimana seharusnya mengoptimalkan kepuasan pelanggan.

caoo.

Wednesday, May 6, 2009 1:31 PM

Bosan Jadi Pegawai-Trans TV

Bosan Jadi Pegawai- Ada acara TV yang menarik yang baru dimulai beberapa bulan yang lalu. "Bosan Jadi Pegawai" yang ditayangkan oleh Trans TV di hari Minggu Siang cukup menarik perhatian saya. Di saat-saat sekarang ini, gaung untuk menjadi enterpreneur memang santer terdengar. Beberapa tokoh enterpreneur dan motivasi juga mulai banyak menerbitkan buku dan mengadakan seminar. Misalnya Purdi E. Chandra, dengan ilmunya " Cara Gila Jadi Pengusaha". Purdi E. Chandra menganjurkan peserta seminarnya, bahkan dengan cara yang ekstrem, untuk meninggalkan pekerjaannya, dan berani memulai status pengusahanya.

Selain itu juga, banyak penulis buku dan orang-orang lainnya yang menulis artikel tentang keharusan meninggalkan status karyawan untuk menjadi pengusaha, baik di koran maupun di internet.

"Bosan Jadi Pegawai" merupakan konsep acara yang belum pernah muncul. Walaupun termasuk genre reality show, namun "Bosan Jadi Pegawai" benar-benar menyajikan sesuatu yang beda. Yang sudah tentu, menjadi tontonan yang menarik bagi setiap orang yang merasakan hal yang sama, yaitu merasa jenuh menjadi karyawan dan ingin menjadi pengusaha.

Di salah satu episode "Bosan Jadi Pegawai", digambarkan seorang yang tadinya bekerja sebagai karyawan di salah satu Bank Swasta, lalu merasa bosan dan ingin memulai usaha. Dia memilih Bisnis Ternak Ikan lele sebagai permulaannya.

Lalu, di acara "Bosan Jadi Pegawai" itu digambarkan bagaimana dia harus bermandikan lumpur di empang lele, bersusah payah mengangkat lele, lalu mengendarai sepeda untuk menjual ikan lele tersebut ke pasar atau pedagang lainnya.

Memang, setiap orang punya pandangan sendiri-sendiri terhadap pilihan karirnya, apakah sebagai karyawan, atau pengusaha. Tapi, kehadiran "Bosan Jadi Pegawai" di Trans TV ini sepertinya sedikit mewakilkan keinginan orang banyak, yaitu ingin bebas secara financial dan waktu.

wass

Wednesday, April 22, 2009 11:22 PM

Bali-Ketika kepercayaan terhadang logika

Ada sebuah hal yang menarik ketika pertengahan tahun lalu saya berlibur ke Bali. Memang, masalah ini tidak hanya saya amati ketika saya di Bali, tapi saya baru kepikiran untuk membahasnya ketika saya di Bali.
Kejadian itu bermula ketika saya sedang beduduk santai di pesisir pantai kuta. Saya duduk tidak jauh dari seorang penjaja papan surf yang disewakan. Badannya legam, berotot, memakai kacamata hitam, dan bertelanjang dada.
Tidak berselang lama, datanglah seorang wanita berpakaian adat Bali, membawa mangkuk berisi sesajian yang diletakan di tepi pantai. Memang, selama saya di Bali, saya sering melihat sesajian yang diletakan di pinggir jalan. Menurut kepercayaan mereka, dengan cara seperti itu lah, para "dewa" menjaga mereka. Dan jangan heran, bila disepanjang jalan-jalan dibali,selalu beraroma kemenyan. Sesajian yang diletakan untuk para dewa pun beraneka ragam jenisnya. Mulai dari sebatang rokok, telur rebus, aneka kue kering, dan lainnya.

Hal ini sebenernya tidak menjadi istimewa buat saya, karena saya mengerti bahwa memang seperti itu lah kepercayaan masyarakat Bali. Namun, yang membuat istimewa bagi saya adalah kejadian setelah itu. Apa yang terjadi setelah si wanita Bali meletakan sesajian nya di tepi pantai, berlutut, berdoa, lalu pergi, telah membuat saya ingin mengetahui lebih jauh tentang fenomena ini. Sesaat setelah si wanita bali, penjaga papan selancar itu pun bergegas bangun dari kursi nya, menghampiri mangkuk sesajian itu, dan kembali ke kursinya. Ternyata dia mengambil sebatang rokok, dan sebutir telur rebus dari mangkuk sesajian itu.

Kontan saja saya tertarik untuk bertanya, apa yang ada di pikirannya, hingga dia sampai hari menyantap santapan untuk para "dewa" itu.

"Mas, mas orang Bali?", tanya saya. "Enggak, saya orang surabaya.. cuma udah lama nyari duit di Bali". Hmmm, pantes saja, karena dia tidak berpikir sama dengan yang dipikirkan si wanita Bali tadi. "Trus, kok mas berani ngambil sesajian itu? Itu kan buat para "dewa"", sindir saya. Dan dengan penuh wibawa dia menjawab. " Ya iya lah mas, mana ada dewa makan gini2an...situ ada ada aja deh...Dari pada mubadzir kebawa air laut, kan lumayan, telur dan rokoknya bisa saya santap..hehehehe..", celoteh dia dengan nada puas

Memang, di beberapa daerah di Indonesia, memiliki adat dan kebudayaan, serta kepercayaan yang berbeda-beda. Toh, ini lah salah satu kekayaan Bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Namun, hal ini selalu menjadi menarik buat saya. Ketika disatu sisi sekelompok orang percaya terhadap suatu tradisi, namun disisi lain orang lain lebih berpikir dengan logika nya.

Seperti misalnya di Jogja. Di Lapangan Alun-Alun terdapat dua buah pohon besar yang, konon, katanya, jika dengan mata tertutup sesorang bisa berjalan melewati pohon itu, berarti orang itu memiliki hati yang bersih. Dan kebetulan, ketika itu saya datang kesana bersama beberapa teman Jakarta saya, yang mungkin semua orang tau, Jakarta adalah kota realistis, kota dimana semua orang berpikir logis. Yang ada, hal ini menjadi guyonan bagi kami, warga Jakarta.

Namun bagaimanapun juga, ini lah kekayaan Bangsa Kita.

Friday, April 3, 2009 10:38 AM

TvOne- Terobosan Hebat Televisi Berita

Jumat,27 maret 2009 menjadi hari yang tidak disangka bagi sebagian besar orang, terutama yang bertempat tinggal di daerah Cirendeu dan sekitar ciputat, Tangerang. Tanggul dari Situ Gintung, sebuah danau buatan yang dibuat pada zaman Belanda, Jebol. Air pun bergemuruh menyapu rumah dan apapun yang ada didepannya. Puluhan orang meninggal. Puluhan lainnya Hilang. Kejadian yang terjadi sekitar pukul 04.30 itu membuat sebagian orang tidak dapat bersiap-siap, karena masih terlalu buta dan terlelap tidur.

Hari itu, hampir seluruh stasiun TV menyiarkan tentang kejadian ini. Tapi, TV mana yang pertama kali menyiarkan tayangan tentang musibah ini??

TvOne lah yang pertama kali membuka mata sebagian besar orang yang beruntung sedang menonton siarannya, bahwa beberapa waktu yang lalu telah terjadi musibah pada sodara sodara kita disekitar Situ Gintung, Tangerang.

Ya, Dua jam setelah kejadian, tepat nya pukul 06.30 pagi, hanya TvOne lah yang menyiarkan laporan tentang bencana ini. Dikala semua TV masih menyiarkan informasi tentang gosip selebritis, liputan kuliner, dan acara rutin lainnya, TvOne telah menyajikan informasi yang menghilangkan kantuk di mata orang yang menontonnya.

Dahulu, mungkin MetroTV lah satu-satunya televisi berita di Indonesia. Namun sekarang, TvOne telah membuktikan dirinya patut diakui sebagai Televisi Berita Nomor Wahid.